[02.02.2019]
Bisakah kalian membayangkan, seseorang melakukan perjalanan dari Jogja ke Bali pp dengan pesawat selama 4 hari 3 malam dan hanya menghabiskan kurang dari 1,25 jt termasuk transportasi dan akomodasi lainnya? Tentu minus oleh-oleh… 😀
Itu yang aku alami bulan lalu.
Penasaran?
Oke… Aku ceritakan detilnya… Tapi maaf, tulisan ini mengandung bejibun iklan. 😂
• Perjalanan dari rumah ke bandara Adi Sucipto cuma habis 4000 perak naik Grab bike. Pas ada promo. [Iklan #1]

• Pesawat dari Jogja ke Bali pp hanya Rp822.420, dan itu sudah termasuk asuransi perjalanan Zurich. [Iklan #2]
Gimana bisa dapat murce?
Well, AA saat itu sedang ada promo dimana-mana. [Iklan #3 detected] Bukan hanya di web-nya sendiri, tapi di tempat-tempat lain juga. Aslinya sebenernya hampir 1 jt sih untuk tiket pesawat pp-nya. Tapi saat itu aku ingat kalau aku belum pernah ‘memakai hakku’ dalam hal pembelian tiket pesawat di Tokopedia. Di Tokopedia tuh untuk setiap transaksi pertama kita pasti dapat cashback lumayan banyak. Transaksi belanja, bayar listrik, bayar telpon rumah, beli pulsa, bayar tagihan pasca bayar, beli tiket kereta, itu semua sudah aku pakai ‘haknya’. Tinggal yang tiket pesawat saja. Biasanya aku langsung transaksi di web resmi-nya AA.
Sebelum transaksi, tentu aku ngintip lagi dimana-mana, mana yang paling murah. Ternyata hampir sama semuanya… Jadi aku balik ke Tokopedia, klik-klik-klik, dan tidak lupa menuliskan kode voucher COBADONG. [Iklan #4 nih…] Mari kita lihat apa yang terjadi…

Daaaannn… Aku nyampai lagi di Baliiiii…

Seturunnya dari pesawat, dengan shuttle bus AA kami diantar ke gedung itu. Kita mesti masuk ke gedung itu untuk keluar dari bandara.
• Dari bandara ke penginapan, naik apa ya enaknya?
Promo Grab-ku sudah habis. Aku intip aplikasi Gojek-ku, ternyata aku punya banyak voucher, baik GoRide maupun GoCar. [Iklan #5]
Oh ya, kita bisa loh pesan transportasi online dari bandara. Tinggal pesan aja seperti biasa saat masih di dalam bandara, nanti janjian dengan drivernya mau ketemuan di mana. Untuk yang mobil bisa ketemuan di Solaria (dalam bandara), nanti kita jalan sendiri ke parkirnya. Untuk yang motor jalan aja ke belakang masjid Al Ikhlas dekat bandara. Ambil jalan yang kiri masjid, di sana biasanya ojol menunggu.

Jadi tidak seperti di Jogja. Kalau di Jogja, kalau kita mau pesan transportasi onlen kita mesti jalan dulu ke Imigrasi. Atau naik Trans Jogja dulu (haltenya ada di bandara/stasiun Maguwo) kemudian turun entah dimana, barulah pesan.
Aku pertamanya pesan GoCar. Lagi pengen memanjakan diri nih, mumpung ada diskon. 😀 Sayang drivernya nggak mau. Dia menelepon. Dia bilang jalan menuju ke penginapanku di Kuta ramai, soalnya ada upacara. Jadi bakalan macet nih… Jadi dia sarankan aku pakai goride saja yang pastinya lincah dalam menembus kemacetan.
Baik hati, heh? Dalam hati aku bertanya-tanya, ada upacara apa ya? Saat itu tanggal 8 Januari 2019. Seingatku upacara terdekat adalah tanggal 5 Januari. Akhir dari perayaan hari suci Galungan yang dimulai sejak 26 Desember 2018.
Saat aku tanyakan itu ke driver GoRide yang akhirnya aku tumpangi, dia bilang memang tidak ada upacara. Itu paling karena driver-nya malas mengantar karena jarak terlalu dekat.

Jaraknya memang dekat sih, cuma 2,6 km. Jalan kaki juga nyampai, kalau nggak malas. 😂 Cuma 29 menit loh…
Dari Bandara, aku minta diantar ke Wendy’s. Mau isi perut dulu. GoPay-ku hanya dipotong 2.000 perak untuk perjalanan ini!
• Makan malam di Wendy’s
Ini merupakan salah satu hal yang membuat perjalananku menjadi hemat. Bagaimana tidak? Lagi ada promo Paket Puas dimana 1 paket makanan dan minuman cuma 20.000 perak (belum PPN). [Iklan #6] Padahal aslinya 45rb-an! Ada 5 varian yang ditawarkan. Aku di sana kan 3 malam, jadi tiap malam bisa pilih varian yang berbeda. Nggak bakal bosen! Dan baiknya lagi, di outlet itu coke-nya boleh diganti dengan minuman lain! Nampaknya ini murni kebijakan outlet, karena pernah coba di outlet lain di Jawa, kita nggak boleh ganti coke-nya. Terbuang deh…

.
Dari Wendy’s ke penginapan cuma 350 m. Jalan kaki aja ah… Sehat!

.
• Menginapnya cuma 297.000 untuk 3 malam!
Aku menginap di H-Ostel Kuta. Aku menemukannya di Booking.com dan Agoda. Dua aplikasi booking hotel itu yang selalu kupakai untuk berburu hotel. Mereka memiliki karakteristik yang berbeda: Booking.com menampilkan harga yang benar-benar harus kita bayar (sudah termasuk pajak dan biaya layanan), sementara Agoda menampilkan harga sebelum dikenai pajak dan biaya layanan. Jadi hati-hati dengan harga yang tertera. Setelah semuanya diperhitungkan, kadang Booking.com lebih mahal, kadang Agoda yang lebih mahal. Tentu aku memilih mana yang lebih murah setelah segala macam tambahannya itu dimasukkan. [Iklan #7 dan #8]
Ada beberapa hal yang menjadi pertimbanganku dalam memilih penginapan:
1. Harganya murah,
2. Ratingnya bagus, kalau bisa di atas 8,5
3. Review dari tetamu bagus,
4. Dekat dengan tempat acara.
Dan pilihanku pun jatuh pada H-ostel Kuta Bali yang terlihat memenuhi semua kriteria itu. Harganya juga murah. Di Agoda, tertulisnya 85.000an setelah mendapatkan tambahan segala tetek bengek hasil akhirnya sekitar 99.600an, sementara di Booking.com 135.000. Tentu aku pilih via Agoda. Ratingnya bagus bangeeettt! Sembilan! Itu rating dari berbagai aplikasi: Agoda, Booking.com, dll. Review tetamu juga bagus. Biasanya review memang sejalan dengan ratingnya. Tapi dari review itu kita jadi ada gambaran lebih jelas tentang penginapan itu. Daaaannn… lokasinya dekat dengan tempat acara: Hotel Grand Inna Kuta. Hanya sekitar 350 m. Itu hanya 5 menit jalan kaki! [Iklan #9]

Oh ya, aku ambil kamar yang mixed dorm. Beberapa kali backpacker-an, biasanya ambil yang female sih… Tapi denger-denger malah enak yang mix, lebih rapi. Hm, jadi teringat waktu di Da Nang dulu… Tempatku menginap kan dekat pantai, banyak dong yang main ke pantai… Di deket tempat tidurku ada stand hanger. Suatu siang sepulang jalan-jalan aku mendapati lantai dekat tempat tidurku basah banget. Ternyata ada yang nyantelin bikini basah di situ… 🙈 Jorse ya…
Tapi temanku yang pernah beberapa kali ambil mix dorm bilang, sebenarnya mix dorm memang enak, tapi kalau lagi sial ya bakal mendapati ada pasangan yang indehoy di tengah malam. Whaaaaatttt? 😱 Dia pernah soalnya… Pernah mendapati, bukan melakukan… 😜 Itu kejadian di luar negeri.
Aku sampai hotel sekitar jam 20.00, setelah lelah berjalan-jalan dan juga kekenyangan. Aku serahkan invoice, si Mbak resepsionis mengecek daftar. Kemudian dia bilang kalau aku dimasukkan ke female dorm, bukan mix dorm, tanpa tambahan biaya. Beruntungnya, kamar ini satu lantai dengan kamar mandi khusus cewek. Kamar ini terletak di lantai 1. Naik satu tingkat dari tempat resepsionis berada. Karena aku malas menaiki tangga, aku pakai lift.

Asik kan kamarnya… Lokernya juga lumayan besar. Ransel-ranselku bisa masuk di situ semua. Tapi kalau kamu bawa koper ukuran besar banget, jelas nggak akan muat. Biasanya kalau bawa yang gedhe, tetamu meletakkannya di ujung tempat tidurnya.
Oh ya, itu kunci lokernya bisa digelangin. Jadi nggak bakal deh tertinggal di suatu tempat. Hanya saja karena tidak tahan air, maka disarankan kalau mandi, cuci muka, atau melakukan apapun yang berhubungan dengan air gelangnya dilepas. Kalau rusak kita harus menggantinya dengan 100.000 perak.
Untuk kapsul nya, meskipun cuma segitu ukurannya, tapi nyaman loh… Tempat tidurnya penuh dengan kompartemen. Di salah satu sisinya ada semacam loker, ada 2. Kita bisa masukkan peralatan sholat maupun jaket di situ. Juga berbagai macam perkabelan. Ada colokan multifungsinya juga di sebelah saklar lampu. Lampunya cukup terang loh, bisa buat kerja. Kotak yang nempel di ‘dinding’ itu bisa ditarik jadi meja laptop. Di foto itu aku salah meletakkan laptopnya. Kalau diputar sekitar 90 derajat ke kiri jadi enak banget. Kita bisa kerja sambil selonjoran, sementara punggung kita menyandar di tembok dengan dialasi bantal.
Di sebelah kotakan itu aslinya ada tempat menyampirkan handuk dan cantelan + hangernya. Maaf yang ini lupa ke potret. Kemudian di bawah tempat tidur ada 2 loker untuk tempat sepatu, satu buat tempat tidur atas, satu buat bawah. Kalau mau tidur, tirainya tinggal diturunin saja… Tirainya tebal. Cahaya dari luar nggak akan masuk. Kita bisa tutup tirai itu bukan hanya pas tidur saja. Siang-siang kala ingin menyendiri pun kita bisa tutup tirainya. Privasi bener-bener terjaga.
Bagaimana kamar mandinya?
Kamar mandi dipisahkan untuk laki-laki dan perempuan. Beda lantai. Kamar mandinya bersih… Karena aku lupa motret kamar mandinya, aku ambil di Google Map saja ya…

Paginya, setelah mandi dan berpakaian, aku menuju ke Rooftop. Letaknya di atas lantai 5. Di sinilah tempat untuk sarapan. Meskipun murah, kita dapat sarapan gratis loh… Dua iris roti (kalau mau boleh dipanggang dulu) dengan berbagai pilihan selai dan segelas teh. Selai favoritku adalah yang berwarna coklat keunguan dengan semacam kismis di tengah-tengahnya. Rasanya manis, nggak ada kecut-kecutnya. Kalau masih lapar, boleh pilih berbagai menu yang ada di sini. Tentu ada charge-nya.
Selama beberapa hari sarapan di sini, aku nggak liat tamu dari Indonesia selain aku. Mungkin kah karena kebetulan jam makannya beda? Tapi di penginapan ini nampaknya memang lebih banyak tamu asingnya daripada tamu lokal.

Tepat di bawah atap di depanku itu, di situlah letak Kuta Art Market yang terkenal itu. [Iklan #10]. Kalau mau ke sana dari penginapan, cukup berjalan beberapa meter ke arah kiri, belok kiri, dan jalan beberapa meter lagi. Sampailah kita ke sana. Deket banget kan… Dan kalau mau ke pantai, dari tempat kita njedul tadi cukup belok kanan dan berjalan beberapa puluh meter. Sampailah kita ke Pantai Kuta! Tuh pantai dan lautnya terlihat dari foto yang bawah… Dari sekitar pohon di kanan atas itu kita bisa intip pasir-pasir pantainya.

Aku makan siang di hotel tempat aku beracara. Hotel Grand Inna Kuta. Gratis kan ya… Eh, tapi bukankah untuk mengikuti acara itu juga harus bayar? Tidak… Karena nasib baik, aku tidak perlu membayar untuk mengikuti acara ini. Padahal aslinya €400. Terima kasih pada UNS dan EBES yang telah memberiku kesempatan ini. [Apakah di sini tercium bau iklan #11 dan #12?] Dan yang menyenangkan adalah… makanan di sana enak sekali! [iklan #13 😁] Sepulang dari Bali aku nggak berani liat timbangan! 😂😂😂

Sekedar bukti bahwa aku pernah mampir di hotel itu, ini fotoku di salah satu ruangannya. (Tetap saja nggak terbukti… Nggak ada tulisannya sih… 😛)
Sorenya aku jalan-jalan ke pantai Kuta untuk menangkap sunset. Aku sengaja mengambil arah yang agak jauh. Arah yang menuju Hotel Grand Inna Kuta, tapi tetap terus sampai ke pantai.
Aku abadikan jalan yang biasa aku lewati selama hari-hari di sana, untuk sekedar mengenang-enang. Meskipun bisa saja aku mengintipnya lewat Google Earth…

.

Di hari terakhir, aku jalan ke Krisna untuk membeli beberapa cemilan buat anak-anak di rumah. Di Krisna dijual berbagai macam pernak-pernik, pakaian, dan cemilan khas Bali. Ada juga kopi. Aku tidak tertarik dengan pernak-perniknya sih… Cuma cemilannya doang. Yang paling terkenal sih sembarang kacang-kacangan (kacang telur, kacang koro, kacang disco), keripik usus, brem, dan masih banyak lagi… Tapi yang paling disukai keluargaku kacang koro kupas. Kacang koro dari Bali itu tipis-tipis dan keras. Plus beragam rasa kalau mau. Enak sekali buat dikunyah-kunyah… [Iklan #14]
Aku ke Krisna bersama seorang kenalan. Tetangga kapsulku. Dia aslinya dari Jepang, hanya saja beberapa bulan ini bekerja di Semarang untuk mengajar bahasa Jepang. Kami pergi naik GoRide. Hanya 2.000 dari penginapan kami!
Dan setelah selesai berbelanja kami berpisah. Dia kembali ke penginapan, sementara aku meneruskan perjalanan ke bandara. Mau balik kampung.
Kami menunggu GoRide di seberang Krisna. Berdasarkan info dari abang Gojek sebelumnya, kalau pesan jangan pas di Krisna-nya. Sebaiknya nyeberang dulu. Taukah kalian berapa biaya GoRide-ku? Gratis, saudara-saudara!

Singkat cerita (setelah bercerita panjang lebar 😂) aku sampai lagi di Jogja tercinta. Dari bandara ke rumah pakai GoRide. Masih dapat harga promo: 8.000 perak.

.
