Diposkan pada Nguri-uri Budaya, Tradisi

Pengantin Melayu Kala Itu

[24.05.2021]

Hari ini semestinya ulang tahun pernikahan orang tua kami ke-52. Qadarullah ibuku berpulang 30 Desember 2019 yang lalu. Namun paling tidak apa yang dicita-citakan tercapai. Dari dulu beliau sering bilang ingin melewati pernikahan emasnya. Beliau berpulang 7 bulan setelah pernikahan emasnya.

Foto ini mewakili suasana masa lalu. Suasana yang memotret bagaimana bahagianya bapakku karena berhasil meminang gadis idamannya, meskipun berbeda suku. Saat itu pernikahan beda suku masih lumayan jarang, mungkin karena transportasi belum semaju sekarang ini, jadi belum banyak orang merantau.

Lanjutkan membaca “Pengantin Melayu Kala Itu”
Diposkan pada Nguri-uri Budaya

Gunungan Kakung

[14.08.2019]

Akhirnya dapat juga foto si Kangmas saat prosesi Garebeg Besar 1952 Be kemarin. Kali ini si Kangmas bertugas menjaga Gunungan Kakung.

Aku belum pernah cerita tentang Gunungan Kakung kan? Yang pernah kuceritakan di sini dulu baru Gunungan Gepak dan Gunungan Bromo.

Lanjutkan membaca “Gunungan Kakung”
Diposkan pada Jogjakarta, Nguri-uri Budaya

Gunungan Bromo tahun Dal

[01.12.2017]

Garebeg Maulud tahun ini istimewa, karena bertepatan dengan tahun Dal. Di setiap tahun Dal yang jatuh 8 tahun sekali ini dikeluarkan Gunungan Bromo.

Gunungan Bromo bentuknya agak mirip dengan Gunungan Wadon, namun di bagian tengahnya dari bawah hingga puncak diberi lubang. Di bagian bawah lubang ini ditempatkan sebuah anglo yang berisi bara, untuk membakar segumpal kemenyan. Efek yang didapat, gunungan seolah-olah mengeluarkan asap tebal seperti gunung berapi beneran.

Lanjutkan membaca “Gunungan Bromo tahun Dal”

Diposkan pada Jogjakarta, Nguri-uri Budaya

Garebeg Syawal 1438 H

[26.06.2017]

Gunungan di foto ini adalah salah satu gunungan dalam Grebeg Syawal. Namanya Gepak. Gunungan ini berisi buah-buahan. Setelah dikeluarkan dari kraton, gunungan ini diarak menuju ke Masjid Kauman.

Pengusung gunungan (yang berbaju atasan merah jarik biru) adalah penduduk biasa, bukan abdi dalem. Biasanya digilir dari berbagai dusun di DIY. Seringnya dari Sleman atau Bantul. Untuk Grebeg Syawal tahun ini, yang mendapat giliran adalah penduduk dusun Kalipucang, Kabupaten Bantul. Ada sekitar 120 penduduk yang bertugas.

Lanjutkan membaca “Garebeg Syawal 1438 H”

Diposkan pada Nguri-uri Budaya

Kelahiran Putri Kawung

[02.10.2016]

Sudah lama sekali aku tidak mengunjungi blog ini. Ini adalah blog milik KUBe Putri Kawung yang kami buatkan pada bulan Agustus 2012. Surprise… pengunjungnya kini sudah mencapai lebih dari 85.000 (update Feb 2019: 143ribu-an, -red).Padahal posting terakhir 3,5 tahun yang lalu. Aku lupa password-nya. 😂 Produk mereka sekarang tentu jauh lebih bagus daripada yang dulu! Harga juga tentulah sudah naik…

Hmmm… jadi ingat pertama kali kami (aku, Ninik, dan Titik) berkenalan dengan para pembatik Putri Kawung dari Bayat ini di pertenghn tahun 2012. Saat itu Putri Kawung belum dibentuk. Mereka masih menjadi buruh batik dengan upah Rp5.000,00 sehari. Ya… Lima ribu rupiah! Nggak salah baca, itu!

Lanjutkan membaca “Kelahiran Putri Kawung”

Diposkan pada Jogjakarta, Nguri-uri Budaya

Mbatik Yuuuk…

[03.07.2010]

Ketika berumur sekitar 6 tahun, Amas belajar membatik di Giriloyo, Imogiri. Yang digambarnya tentu nggak jauh-jauh dari apa yang disukainya: mobil berat. Sebenarnya, selain belajar membatik, ada misi lain dari kegiatan ini: Amas mau menyiapkan kado perpisahan untuk gurunya, Ibu Beth Cubie. Kadonya ya berupa hasil membatiknya itu.

Sayangnya dalam proses itu beberapa kali Amas ketumpahan malam panas saat nyanting. Itu yang membuat Amas nggak mau membatik lagi sampai sekarang. Saat bolak-balik ikut emaknya menyambangi pembatik dampingan di Bayat, Amas ya hanya sekedar main-main saja.

Lanjutkan membaca “Mbatik Yuuuk…”