Sebenarnya kami dulu berencana mau ‘menyekolahkan’ Amas kalau umurnya sudah 3 atau 4 tahun. Tapi situasi bicara lain. Gempa melanda Jogja pada akhir Mei 2006. Tidak berdampak besar pada rumah kami, karena hanya retak-retak kecil yang kami dapati, namun berdampak besar pada kehidupan kami. Rumah orang tua asisten rumah tangga (ART) kami di Bantul roboh rata tanah. ART kami kemudian pulang untuk menemani orang tuanya mengungsi, dan beberapa hari kemudian menikah. Dia pulang lebih cepat satu bulan dari yang direncanakan. Di atas kertas, nampaknya tidak berpengaruh besar pada kami, bukan? Tapi hal ini menjadi berdampak besar karena pengganti yang dia sudah siapkan tertimpa reruntuhan rumah dan patah di bagian tulang punggung, hingga lumpuh.
Lanjutkan membaca “Pertama “Bersekolah””Kategori: Merenda Hari
Menggambar
Amas mulai suka menggambar pada usia sekitar 3 tahun. Awalnya karena dia rewel tanpa henti. Saya mencoba mengalihkannya dengan mengajaknya menggambar. Kebetulan di dekat kami ada buku tentang mobil pemadam kebakaran. Saya menggambar covernya sambil mengajak Amas mengobrol. Amas pun berangsur menjadi tenang. Setelah gambar saya selesai, Amas mencoba menirukan menggambarnya. Jadi, dan bagus. Sejak itu Amas suka sekali menggambar. Gambarnya sebagian besar mengarah ke 3 dimensi. Dia bisa menghabiskan 10-20 lembar kertas A4 setiap harinya. Sayangnya Amas tidak pernah menunjukkan kemampuannya di sekolah. Gambar yang dibuatnya di sekolah biasa-biasa saja.
Lanjutkan membaca “Menggambar”Tidak Bisa Diam, Sulit Konsentrasi, dan Clumsy
Karena kelebihan energi, Amas sulit sekali konsentrasi. Di kelas, kerjanya jalan-jalan terus. Pokoknya Amas suka membuat dirinya sibuk tapi tidak konsen ke kegiatan yang seharusnya. Oleh gurunya, Amas kemudian diberi jam khusus sebelum masuk kelas. Amas disuruh main-main di luar dulu: meniti, memanjat, lari-lari sampai capek (energinya digembosi!). Setelah itu, baru lah dia bisa tenang di kelas.
Konon menurut salah satu gurunya, kegiatan itu bukan sekedar untuk ‘menggembosi‘ energi Amas, tapi juga upaya untuk melatih keseimbangannya, mengingat Amas sangat clumsy sehingga gampang jatuh.
Lanjutkan membaca “Tidak Bisa Diam, Sulit Konsentrasi, dan Clumsy”Puzzle
Amas suka sekali main puzzle. Sejak bayi Amas memang sudah saya belikan aneka puzzle untuk anak-anak. Ada berbagai puzzle balita 4 pcs; ada pula puzzle buku cerita, yaitu buku cerita yang pada tiap halamannya ada puzzle-nya, masing-masing 20 pcs dengan bentuk keping yang sama semua; Amas juga punya puzzle 112 pcs.
Karena itu saya tidak heran ketika beberapa orang dari sekolahnya melaporkan, “Amas main puzzle-nya pintar sekali ya…” Di rumah sering main puzzle soalnya.
Bertahun-tahun kemudian, saat Amas kelas 6 SD, saya baru menyadari bahwa yang dimaksud dengan ‘pintar’ di atas adalah benar-benar pintar yang di atas kemampuan anak-anak seusianya. Ini gegara saya bertemu dan mengobrol dengan kepala sekolahnya saat PG-TK dulu, Ms Riri.
Lanjutkan membaca “Puzzle”Pertama Membaca
Biasanya kalau mau berangkat sekolah, saya siap lebih dulu daripada Amas. Tapi hari itu Amas bangun lebih pagi, langsung mau mandi dan makan. Jadilah Amas siap lebih dulu.
“Amas baca ini dulu ya, sambil nunggu Ibu mandi,” kata saya sambil membukakan majalah B*b* di bagian cerita bergambarnya. Maksud saya tentu agar Amas ‘membaca’ gambarnya.
Setelah saya selesai mandi, terlihat Amas asyik membolak-balik majalah tadi. Amas melihat ke arah saya sambil tertawa, “Sudah selesai membacanya!”
Lanjutkan membaca “Pertama Membaca”Masa-masa di Sekolah Dasar
Setelah lulus TK, Amas kami sekolahkan di SD negeri besar dekat rumah, meskipun sekolah lamanya sebenarnya juga ada lanjutan SD-nya. Ini gegara si Bapak menginginkan Amas bersekolah di sekolah yang lebih formal. Sekolah yang berseragam. Pertimbangan lain, sekolah sebelumnya dirasa terlalu jauh.
Saat itu seleksi masuk masih menggunakan tes, bukan usia. Jadi meskipun usia Amas baru 5 tahun 10 bulan, karena lolos tes dia bisa diterima di sana.
°°°
Hari Pertama Bersekolah
Hari pertama bersekolah selalu merupakan hari yang sentimentil buat saya. Di setiap jenjang! Ada rasa haru dan bangga di hati. “Oh, anakku sudah besar… “
Sekolah Amas adalah sekolah yang cukup disiplin. Orang tua tidak diperkenankan menyaksikan proses pembelajaran. Namun untuk hari pertama ada pengecualian. Orang tua diperkenankan masuk sampai di depan kelas. Tentu saja saya manfaatkan kesempatan itu.
Lanjutkan membaca “Hari Pertama Bersekolah”Energik
Hal yang sangat menonjol dari Amas adalah: dia tidak bisa diam. Segera guru-gurunya menyadari hal ini. Di suatu kesempatan, kami mengobrol.
“Di kelas Amas nggak bisa diam, Bu… Jalan-jalan terus. Kadang dia berbaring-baring di bawah, sementara teman-temannya duduk di kursi. Tapi karena kalau ditanya dia bisa menjawab, ya saya biarkan saja,” demikian kata Pak Guru.
Lanjutkan membaca “Energik”