Diposkan pada Nguri-uri Budaya

Gunungan Kakung

[14.08.2019]

Akhirnya dapat juga foto si Kangmas saat prosesi Garebeg Besar 1952 Be kemarin. Kali ini si Kangmas bertugas menjaga Gunungan Kakung.

Aku belum pernah cerita tentang Gunungan Kakung kan? Yang pernah kuceritakan di sini dulu baru Gunungan Gepak dan Gunungan Bromo.

Gunungan Kakung adalah salah satu dari 5 jenis gunungan yang rutin diikutkan dalam Garebeg. Gunungan lainnya adalah Gunungan Puteri, Gunungan Pawuhan, Gunungan Gepak, dan Gunungan Dharat. Ada satu gunungan lagi sebenarnya, tapi ini hanya dikeluarkan pada tahun Dal*. Gunungan khusus ini diberi nama Gunungan Bromo.

Gunungan Kakung berbentuk kerucut, tinggi menjulang. Kerangkanya menggunakan besi. Gunungan ini terdiri dari baderan, bendul, sangsangan, dengul, pelokan, dan thengkilan kacang. Kalau masih asing dengan istilah-istilah ini, bisa buka link ini. Ada keterangan lengkap di situ.

Berbeda dengan gunungan jenis lain yang dibuat masing-masing 1, ada 3 buah gunungan Kakung yang dibuat. Sebelum diperebutkan masyarakat, gunungan ini diarak sesuai tempat tujuannya masing-masing: Mesjid Besar Kauman, Kepatihan, dan Pura Pakualaman.

Aku dulu pernah cerita kan bahwa pengusung gunungan (yang berbaju atasan merah jarik biru) adalah penduduk biasa, bukan abdi dalem? Para pengusung ini digilir dari berbagai dusun di DIY. Seringnya dari Sleman atau Bantul. Nah, kebetulan yang mendapat giliran membawa Gunungan Kakung yang dijaga Kangmas #abdidalempalingganteng ini sudah berpengalaman membawa gunungan yang sama beberapa tahun sebelumnya. Dan mereka sudah menyiapkan strategi bagaimana caranya agar mereka bisa mengusung gunungan dengan nyaman.

Menyenangkan buat si Kangmas? Hmm… ternyata tidak! Lebih enakan yang tidak tau strateginya ternyata. 😀

Jadi gini… Gunungan ini kan diarak secara konvoy. Jalannya pelan-pelan mengingat gunungan ini berat sekali. Nah, kelompok yang dijaga si Kangmas ini karena sudah tau strateginya mereka bisa jalan cepet. Semangat sekali! Padahal di depan-depannya kan jalannya lambat-lambat… Kalau tidak direm, mereka bisa menabrak depannya. Siapa yang bertugas ngerem? Ya abdi dalem yang menjaganya. Jadi bisa dibayangkan, sepanjang prosesi pengarakan gunungan kemarin, si Kangmas berkali-kali harus mengerem jalannya satu kesatuan yang berisi 18 orang yang penuh semangat ini.

Kebayang kan?

Setelah diceritain ini, aku sok punya ide. Mengapa strateginya nggak diterapkan untuk semua pengusung? Ternyata antara satu gunungan dengan gunungan lain memerlukan strategi yang berbeda, mengingat bentuk gunungan, bentuk usungannya, juga beratnya berbeda. Ideku nggak laku! 😅

Wah, berarti perlu dicarikan strategi buat semuanya nih, agar para pengusung lebih nyaman dalam melakukan pekerjaannya.

°°°

  • Dalam sewindu penanggalan Jawa, tahun-tahunnya diberi nama: Alip, Ehe, Jemawal, Je, Dal, Be, Wawu, Jimakir.
avatar Tidak diketahui

Penulis:

Seorang perempuan yang sangat biasa-biasa saja yang suka menulis, kalau lagi pengen.

Tinggalkan komentar