Diposkan pada 1. Masa-masa di PG dan TK, Merenda Hari

Puzzle

Amas suka sekali main puzzle.  Sejak bayi Amas memang sudah saya belikan aneka puzzle untuk anak-anak.  Ada berbagai puzzle balita 4 pcs; ada pula puzzle buku cerita,  yaitu buku cerita yang pada tiap halamannya ada puzzle-nya, masing-masing 20 pcs dengan bentuk keping yang sama semua;  Amas juga punya puzzle 112 pcs.

     Karena itu saya tidak heran ketika beberapa orang dari sekolahnya melaporkan,  “Amas main puzzle-nya pintar sekali ya…” Di rumah sering main puzzle soalnya.

     Bertahun-tahun kemudian,  saat Amas kelas 6 SD,  saya baru menyadari bahwa yang dimaksud dengan ‘pintar’ di atas adalah benar-benar pintar yang di atas kemampuan anak-anak seusianya. Ini gegara saya bertemu dan mengobrol dengan  kepala sekolahnya saat PG-TK dulu,  Ms Riri.

     “Memang Amas pintar sekali kok dulu main puzzle-nya… Sampai-sampai oleh pemilik sekolah dicarikan puzzle-puzzle yang lebih menantang buat dia.  Bahkan sampai dicarikan ke Australia saat beliau mudik ke negaranya,” demikian ms Riri yang posisinya saat itu sudah berganti menjadi konsultan kurikulum.

     “Masih ingat puzzle konstruksi yang 3 dimensi itu?  Itu dibeli juga diantaranya buat Amas.  Belinya di Australia,” lanjut Ms Riri.

     Ya,  saya ingat…  Saya pernah liat puzzle itu dalam proses penyelesaian. Berbentuk dino yang besar sekali. Terbuat dari kayu.  Ada juga yang berbentuk kapal, terbuat dari kertas. Belum pernah saya lihat puzzle seperti itu sebelumnya.

     “Kalau ms Riri nggak lupa, tolong dong difotoin puzzle-nya…” pinta saya antusias.

     “Puzzle-nya harus terpasang biar kelihatan. Siapa yang mau memasang? Itu susah…  Biasanya anak kelas 5-6 SD yang main.  Itu pun nggak sekali jadi.  Project beberapa hari itu…” katanya.

     “Coba deh bilang ms Dani,  kalau lagi ada project itu minta kirimi fotonya,” lanjutnya.  Ms Dani itu Kepala Sekolah SD saat ini.

     “Dulu Amas bikinnya pun beberapa hari.  Sama David bikinnya. Masih ingat David?  Anak blasteran Prancis. Mereka dibantu beberapa anak lain.  Padahal mereka waktu itu masih TK,” katanya.

     “Kan kalau dikasih pekerjaan itu tenang Amas,  nyenuk,  gitu… Nggak berlarian kesana kemari terus nabrak-nabrak furnitur…” lanjutnya sambil tertawa.

     “Kebetulan rombongan Amas memang bagus-bagus.  Setelah rombongan mereka berlalu,  kami cobakan pada anak-anak TK yang baru kok pada nggak bisa?  Kami baru menyadari bahwa permainan itu terlalu sulit untuk anak-anak TK. Jadi kami kasihkan ke SD,” tambahnya.

     “Sadarnya kok telat ya?” kata saya sambil tertawa.

     “Dulu kan belum ada wacana gifted. Tapi kami tahu aja ini anak-anak spesial. Makanya kami fasilitasi. Kalau mereka sudah bisa satu level,  kami kasih level yang lebih tinggi.  Begitu terus.  Nggak sadar kalau itu ternyata ketinggian buat anak-anak biasa.”

     Wah, jadi terharu… Sedemikian besar ternyata perhatian sekolah pada Amas. Sayang saya menganggap enteng laporan-laporan kekaguman yang masuk. Coba kalau saat itu langsung aware

 °°°

avatar Tidak diketahui

Penulis:

Seorang perempuan yang sangat biasa-biasa saja yang suka menulis, kalau lagi pengen.

Tinggalkan komentar