Biasanya kalau mau berangkat sekolah, saya siap lebih dulu daripada Amas. Tapi hari itu Amas bangun lebih pagi, langsung mau mandi dan makan. Jadilah Amas siap lebih dulu.
“Amas baca ini dulu ya, sambil nunggu Ibu mandi,” kata saya sambil membukakan majalah B*b* di bagian cerita bergambarnya. Maksud saya tentu agar Amas ‘membaca’ gambarnya.
Setelah saya selesai mandi, terlihat Amas asyik membolak-balik majalah tadi. Amas melihat ke arah saya sambil tertawa, “Sudah selesai membacanya!”
“Coba Ibu diceritakan,” kata saya iseng sambil membuka cerita bergambar yang tadi.
Dan Amas pun menceritakan kembali cerita itu dengan detail. Terkejut lah saya… Tidak mungkin Amas bisa menceritakan kembali seperti itu kalau tadi dia cuma lihat gambarnya saja.
“Kamu bisa baca?” tanya saya.
Amas mengangguk sambil tertawa.
“Kalau begitu, Ibu dibacakan dong cerita yang ini,” pinta saya setengah tidak percaya sambil menunjukkan cerita bergambar yang lain.
Dan Amas pun membaca. Tidak terlalu cepat, tapi lancar. Sampai selesai. Segera saya peluk dan ciumi Amas.
Namun kemudian muncul pertanyaan ini di kepala saya: Siapakah yang mengajarkan Amas membaca? Saat itu Amas baru berusia 4 tahun 11 bulan. Amas sengaja kami sekolahkan di sekolah yang tidak mengajari membaca. Tidak ada orang dewasa di rumah selain saya dan bapaknya. Di rumah jelas tidak ada yang mengajarinya membaca. Yang biasa saya lakukan hanyalah membacakan cerita keras-keras, sambil jari saya menunjuk tiap kata yang sedang dibaca.
Saat mengantar Amas ke sekolah, saya mendatangi gurunya, bu Beth, untuk menanyakan apakah Amas diajari membaca atau tidak. Bu Beth tersenyum. Beliau menjelaskan bahwa sekolah memang tidak mengajarkan anak-anak membaca, namun tetap ada sesi membaca. Ini yang anak-anak lakukan saat sesi membaca: semua anak pegang buku dan ‘membaca’ sesuai kemampuannya. Yang bisanya hanya melihat gambar tidak apa-apa. Yang bisanya hanya membaca satu kata ya tidak apa-apa. Satu kalimat pun oke. Nah, kalau Amas, dia selalu membaca satu buku.
Oh, baiklah… Saya pun tidak jadi mengomeli gurunya.
°°°