Sebenarnya kami dulu berencana mau ‘menyekolahkan’ Amas kalau umurnya sudah 3 atau 4 tahun. Tapi situasi bicara lain. Gempa melanda Jogja pada akhir Mei 2006. Tidak berdampak besar pada rumah kami, karena hanya retak-retak kecil yang kami dapati, namun berdampak besar pada kehidupan kami. Rumah orang tua asisten rumah tangga (ART) kami di Bantul roboh rata tanah. ART kami kemudian pulang untuk menemani orang tuanya mengungsi, dan beberapa hari kemudian menikah. Dia pulang lebih cepat satu bulan dari yang direncanakan. Di atas kertas, nampaknya tidak berpengaruh besar pada kami, bukan? Tapi hal ini menjadi berdampak besar karena pengganti yang dia sudah siapkan tertimpa reruntuhan rumah dan patah di bagian tulang punggung, hingga lumpuh.
Kehidupan harus terus berjalan. Saya bekerja, si Bapak juga bekerja. Bagaimana dengan Amas? Saat itu (bulan Juni) Amas baru berusia 1 tahun 9 bulan.
Tiba-tiba teringat suatu sekolah: SMS. Sekolah yang tidak mainstream, yang model pendidikannya sesuai dengan apa yang ada dalam bayangan saya: tidak mengajari membaca, namun lebih mementingkan untuk menstimulasi anak sesuai dengan kemampuannya. Ini sekolah inklusi.
Setelah berdiskusi dengan si Bapak, sepakatlah kami menitipkan Amas di sana saat saya mengajar. Sementara seminggu tiga kali dulu.
Entah mengapa hati saya sedih saat mengantarnya sekolah pada hari pertamanya. Ada rasa tidak tega saat meninggalkannya di sekolah itu. Tapi Kepala Sekolah berhasil meyakinkan saya bahwa Amas akan baik-baik saja di sana. Melihat Amas antusias berada di tempat barunya, saya tega-tegakan untuk meninggalkannya. Di jalan, saya menangis bombay!
Tapi sebentar, kenapa saya menangis ya? Kalau boleh jujur, ada beberapa penyebabnya. Yang pertama, saya benar-benar tidak tega meninggalkannya. Kedua, terus terang saja, saya agak ‘tersinggung’ karena Amas tidak menangis seperti anak-anak lain pada umumnya saat ditinggal orang tuanya di tempat yang baru. Kenapa ya dia merasa nyaman-nyaman saja saat saya tinggal? Dia tidak butuh saya kah?
Saat saya jemput sekitar 5 jam kemudian, Amas terlihat gembira menyambut saya. Sebelum pulang saya mengobrol dulu dengan kepala sekolah, menanyakan bagaimana Amas hari itu. Amas baik-baik saja. Tidak menangis sama sekali. Dia dengan penuh semangat menjelajah ke semua sudut yang ada di SMS. Jadi tidak ada kesulitan dalam membiasakan Amas dengan suasana sekolahnya. Eh… tapi itu ternyata hanya pemikiran saya pada awalnya. Dua minggu kemudian, Amas menangis saat saya tinggal di sekolahnya. Dan ini berlangsung selama dua minggu juga (6 kali pertemuan).
Saya pun membicarakan hal ini dengan kepala sekolahnya, ms Riri. Menurut analisis Ms Riri, Amas itu model anak yang eksplorer. Memang ada beberapa anak yang seperti ini. Berada di tempat yang baru membuatnya ingin mengetahui apa-apa saja yang ada di situ. Setelah dia mengenal tempat itu alias rasa ingin tahunya terpuaskan, dia baru menyadari bahwa dia sebenarnya ‘dibuang’ di tempat itu. Rewel lah dia…
Setelah banyak dicekoki berbagai bacaan tentang anak gifted bertahun-tahun kemudian, muncul pertanyaan dalam pikiran saya: apakah hal itu berkaitan dengan giftedness-nya? Dia eksplor ke sana kemari karena rasa ingin tahunya yang besar. Apakah hal itu sebenarnya merupakan sinyal giftedness yang tidak saya sadari pada awalnya?