Amas mulai suka menggambar pada usia sekitar 3 tahun. Awalnya karena dia rewel tanpa henti. Saya mencoba mengalihkannya dengan mengajaknya menggambar. Kebetulan di dekat kami ada buku tentang mobil pemadam kebakaran. Saya menggambar covernya sambil mengajak Amas mengobrol. Amas pun berangsur menjadi tenang. Setelah gambar saya selesai, Amas mencoba menirukan menggambarnya. Jadi, dan bagus. Sejak itu Amas suka sekali menggambar. Gambarnya sebagian besar mengarah ke 3 dimensi. Dia bisa menghabiskan 10-20 lembar kertas A4 setiap harinya. Sayangnya Amas tidak pernah menunjukkan kemampuannya di sekolah. Gambar yang dibuatnya di sekolah biasa-biasa saja.
Meski Amas tidak pernah menunjukkan kemampuan yang sesungguhnya dalam menggambar, namun saat dia duduk di Taman Kanak-kanak, gurunya menangkap ada sesuatu yang berbeda pada gambarnya.
“Look at this. This is very detailed! This is several years above his age!” kata bu Beth suatu hari, sembari menunjukkan gambar yang Amas buat. Bu Beth adalah guru kelasnya saat itu, orang Inggris.
Beberapa jam sebelum itu Amas berkelahi dengan temannya. Karena Amas menolak menceritakan kronologis kejadiannya, bu Beth meminta Amas bercerita apa yang terjadi melalui gambar. Saya lihat gambarnya biasa-biasa saja. Yang di rumah jauuuuh lebih bagus dari itu. Tiga dimensi! Yang ditunjukkan bu Beth itu dua dimensi. Entah mengapa, gambar Amas di rumah selalu jauh lebih bagus dari gambarnya di sekolah. Herannya, bu Beth tetap bisa melihat keistimewaan gambarnya.

Catatan:
Anak gifted mengalami berbagai lompatan dalam tumbuh kembangnya. Menggambar 3 dimensi di usia dini adalah salah satu bentuk lompatan ini. Pada usia 3 tahun, biasanya anak-anak baru bisa menggambar bentuk-bentuk sederhana, seperti garis, kotak, lingkaran, segitiga.
°°°