Diposkan pada 2. Masa-masa di SD, Merenda Hari

Energik

Hal yang sangat menonjol dari Amas adalah: dia tidak bisa diam. Segera guru-gurunya menyadari hal ini. Di suatu kesempatan, kami mengobrol.

     “Di kelas Amas nggak bisa diam, Bu… Jalan-jalan terus. Kadang dia berbaring-baring di bawah, sementara teman-temannya duduk di kursi. Tapi karena kalau ditanya dia bisa menjawab, ya saya biarkan saja,” demikian kata Pak Guru.

     Bu Guru juga menyatakan hal yang sama. Saat itu kelas Amas memang diampu oleh 2 guru.

     Pada Bu Guru, saya sampaikan apa yang diterapkan pada Amas oleh guru-gurunya saat Amas masih di TK. Bu Guru nampak senang mendapatkan informasi ini. Jadi ketika energi Amas nampak berlebih, oleh gurunya Amas diminta untuk berlari-lari dulu di halaman.

     Ada kejadian lucu saat Amas masih duduk di kelas ini. Amas kan lasak sekali. Ya, nggak bisa diam… Lasaknya Amas benar-benar mengingatkanku pada Totto Chan (coba deh search di Google) pada adegan buka tutup laci meja saat belajar di kelas. Hihihi…

     Kasus Amas sedikit berbeda. Ini berkaitan dengan kotak pensilnya yang terbuat dari kaleng.  Setiap dia gerakkan pasti klotak-klotak bunyinya.

     “Ibu,  kata Bu Guru kotak pensilku harus ganti…”

     “Kenapa?” tanyaku.

     “Klotak-klotak terus bunyinya.  Mengganggu pelajaran…”

     “Baiklah,  nanti sore kita beli kotak pensil baru ya… ” kataku menahan tawa sambil membayangkan dia tak henti-hentinya menggerakkan tempat pensilnya itu.

     Kalau ini kejadian lain yang saya dapatkan dari ‘laporan’ seorang teman,  yang kebetulan anaknya bersekolah di sekolah yang sama dengan Amas. Saat itu outing yang pertama buat Amas (outing adalah istilah yang dipakai oleh SD-nya untuk kegiatan pembelajaran di tempat tertentu di luar sekolah, misalnya,  ke museum,  stasiun kereta,  dsb).

     Teman saya bercerita sambil tertawa,  “Tadi aku lihat Amas. Dia dipegangi terus sama Bu Guru. Nggak ada anak lain yang dipegangi terus oleh gurunya kayak Amas.”

     Haha…  Geli juga membayangkannya.  Amas pasti akan berlarian ke sana kemari bila tidak dipegangi seperti itu.

     Masih kejadian saat Amas di kelas 1. Hampir tiap hari saya mengajak Amas belajar.  Ya,  cuma sekali baca saja apa yang ada di modulnya.

     Suatu hari Amas menolak diajak belajar. 

     “Kata guru,  aku nggak boleh baca dulu sebelumnya.  Soalnya aku jadi suka main-main dan jalan-jalan kalau di kelas. Nggak memperhatikan pelajaran.”

     Dan sejak saat itu Amas tidak pernah belajar lagi di rumah.

     Di akhir tahun pelajaran,  semua anak di sekolah Amas mendapatkan award.  Para guru bertugas mencari kelebihan setiap anak didiknya, yang menjadi dasar dari pemberian award itu.  Award apa yang didapat Amas?  Energik!

     Award “Energik” ini didapatkan Amas 3 kali selama bersekolah di sana.

     Suatu kali,  sepertinya saat Amas kelas 3, pemberian Award ini dilakukan bukan di kelas,  melainkan di luar kelas,  bersamaan untuk satu sekolah. Semua anak yang mendapatkan award yang sama maju bersama.  Amas mendapatkan award yang diberikan terakhir: energik! Ada 3 anak yang mendapatkan award itu. Saat anak-anak itu naik ke panggung,  terlihat tipe yang sama: petakilan.

avatar Tidak diketahui

Penulis:

Seorang perempuan yang sangat biasa-biasa saja yang suka menulis, kalau lagi pengen.

Tinggalkan komentar