Hari pertama bersekolah selalu merupakan hari yang sentimentil buat saya. Di setiap jenjang! Ada rasa haru dan bangga di hati. “Oh, anakku sudah besar… “
Sekolah Amas adalah sekolah yang cukup disiplin. Orang tua tidak diperkenankan menyaksikan proses pembelajaran. Namun untuk hari pertama ada pengecualian. Orang tua diperkenankan masuk sampai di depan kelas. Tentu saja saya manfaatkan kesempatan itu.
Pertemuan pertama dimulai dengan perkenalan. Setelah Pak Guru memperkenalkan dirinya, mulailah beliau mencoba mengenal murid-muridnya.
“Siapa yang mau menyanyikan Bintang Kecil?” tanya Pak Guru.
Tiba-tiba terdengar suara bening lantang dari arah belakang. Amas-ku menyanyi! Dia menyanyikannya dengan nada yang pas, tidak sumbang. Pak Guru terlihat senang melihat keberaniannya. Sayangnya, banyak temannya cekikikan mendengar dia menyanyi. Saya merasa tidak nyaman dengan hal ini. Beginikah budaya di Indonesia? Saat seseorang tampil bukannya dihargai tapi ditertawakan. Amas sendiri cuek, dia meneruskan nyanyinya sampai akhir.
Setelah Amas mengakhiri lagunya, Pak Guru bertepuk tangan dan berkata dengan sabar, “Kalau ada teman yang sedang tampil dihargai ya… Jangan ditertawakan…”
Saya senang sekali mendengarnya. Pak Guru ternyata tidak tinggal diam. Beliau mencoba meluruskan masalah ini.
Catatan:
Sekitar 6 tahun kemudian, saya mengikuti diskusi tentang anak cerdas istimewa yang diselenggarakan oleh Jurusan Pendidikan Luar Biasa FIP UNY. Diskusi ini juga diikuti oleh guru-guru sekolah yang memiliki kelas akselerasi. Di sini saya bertemu dengan seorang guru Bimbingan dan Konseling (BK) suatu SMP. Katakanlah namanya Bu Yen. Saya pun menceritakan kisah ini, dengan menekankan kesalutan saya pada apa yang dilakukan oleh Pak Guru. Namun menurut Bu Yen, apa yang dilakukan oleh Pak Guru sebenarnya kurang tepat, meski maksudnya baik. Menurutnya, anak-anak kelas 1 SD itu masih sangat kecil. Mereka seringkali belum tahu apakah yang mereka lakukan itu benar atau salah. Namun ada ‘teknik’ tertentu untuk meluruskan apa yang salah. Ketika mengajak anak-anak berbuat baik, sebaiknya tanpa menyalahkan mereka.
Dalam kasus Amas di atas, Pak Guru menunjukkan kesalahan anak-anak dengan mengatakan, “Jangan ditertawakan…”. Ini dengan sendirinya menunjukkan bahwa “Kalian salah!” dan menciptakan gap antara Amas dengan teman-temannya. Ini bisa menyebabkan teman-teman menjadi tidak suka pada Amas karena menyebabkan mereka dibilang berbuat salah.
“Jadi apa yang sebaiknya kita lakukan apabila ada kejadian seperti itu?” tanya saya.
“Kita bisa bertanya ke anak-anak, ‘Apa yang sebaiknya dilakukan ketika ada teman yang tampil? Apa yang sebaiknya dilakukan setelah teman selesai tampil?’ Biarkan anak-anak menjawab. Bila tidak ada yang menjawab dengan benar, perlu disampaikan apa saja yang sebaiknya dilakukan ketika ada teman yang tampil.”
Saya tercekat. Saya sudah sering membaca bahwa kita perlu menghindarkan menyebutkan kata ‘jangan’ dan ‘tidak’ pada anak-anak. Namun sungguh, tak terpikirkan sebelumnya akibatnya bisa seperti itu. Pembicaraan dengan guru BK ini pun menjadi pembelajaran buat saya.
°°°