[23.08.2017]
Ingin merasakan waktu yang terhenti di suatu masa di jaman dahulu? Datanglah ke RM Sumber Hidangan di Jl. Braga, Bandung. Ini adalah salah satu tujuan dalam pelanconganku yang kuimpi-impikan dari rumah.
Aku ke sana berjalan kaki, dari Stasiun Bandung. Deket, kok… Paling juga cuma sekitar 15 menitan…
Aku sampai di jl. Braga sekitar pukul 07.30. Mampir dulu di Indomaret Point buat ngecas HP sambil nunggu rumah makan itu buka. Buat pantas-pantas karena nunut ngecas, aku jajan snack ringan di toko itu. Nggak enak kalau nggak beli. Tapi mau beli yang ngenyangin juga sayang… Kan mau ke rumah makan jadoel itu. Sayang kalau ke sana pas perut kenyang. Mau ngapain coba? Duduk-duduk doang? Jadi aku memelihara perut laparku agar bisa menikmati makanan-makanan lezat di sana.
Pukul 9.20 aku cabut dari toko itu untuk meneruskan perjalanan yang tinggal beberapa langkah lagi.
Sempat keterusan sampai ujung jalan, hingga kemudian aku putar haluan dan menyusuri jalan semula. Karena nggak liat plangnya, aku urutkan nomer rumahnya. Di tempat kira-kira resto itu berada, aku hanya menemui toko yang masih tutupan. Jadi aku tanya tukang parkir apakah benar RM Sumber Hidangan ada di situ.
Ternyata benar! Tapi rumah makannya baru buka pukul 9.30. Saat itu pukul 09.25. Aku terlalu cepat 5 menit! Padahal informasi yang aku dapat dari internet mengatakan RM-nya buka pukul 09.00-15.30.
Sambil nunggu, aku menikmati lukisan-lukisan yang banyak bertebaran di sepanjang jl. Braga. Menyenangkan sekali! Konon, jalan ini adalah Malioboronya Bandung.
Setelah rasanya lamaaaa menunggu, akhirnya buka juga restorannya. Perutku sudah kemruyuk nih… Kebayang kue soes dan bistik yang katanya super lezat itu.
Begitu masuk, aku disambut dengan etalase yang memajang roti-roti yang menggiurkan. Juga timbangan kue besar di tengah ruangan. Suasananya aneh… Rasanya benar-benar seperti terlempar ke puluhan tahun yang lalu. Bahkan pada jaman sebelum kelahiranku.
Semuanya jadoel. Dari perabotannya, interiornya, kue-kuenya, tembok-temboknya, langit-langitnya, bahkan sampai orang-orangnya. Oooops… 🙊
Tapi bener… Pegawai-pegawainya sudah tua-tua. Dari bapak kasir di bagian minuman, ibu kasir di bagian roti, pelayannya, semuanya lah! Konon pegawai-pegawai itu sudah bekerja turun temurun di rumah makan itu.
Rumah makan yang menempati dua space toko itu berdiri pada tahun 1929 dengan nama “Het Snoephuis”, yang merupakan tempat nongkrong favorit orang-orang Belanda dan orang-orang pribumi kaya. Resep-resepnya dipertahankan hingga sekarang. Jadi yang akan kita temui adalah roti-roti lezat tanpa bahan pengawet dan pengembang a la jaman doeloe.
Hampir semua roti harganya sama: Rp11.000,00 per biji. Aku hanya ambil soes vla yang ditaburi gula halus dan pastel raksasa. Sebenarnya ada lebih banyak lagi: saucisj brood, keik mocca lapis nougat, dll yang aku nggak hafal namanya. Ada juga beberapa kue kiloan, seperti kaastengel. Kaastengel-nya gemuk dan renyah. Harganya Rp270.000,00 per kilo. Aku cuma beli 100 gr saja sih.
Impianku tidak lengkap kalau aku tidak beli es krimnya. Tentu yang dijual adalah es krim buatan sendiri. Teksturnya lebih kasar dari bikinan pabrik, tapi citarasanya jangan ditanya. Bikin lupa mertua! Harga es krimnya bervariasi, dari Rp9.000,00 hingga Rp24.000,00.
Sayang aku tidak berhasil mencicipi nasi goreng atau bistiknya yang istimewa itu. Menurut pegawainya, sudah sekitar dua tahunan mereka tidak lagi menjual makanan-makanan berat.
Saat mau pulang, aku minta dibungkuskan roti tawar yang sudah diiris tebal-tebal. Bentuk, tekstur, dan rasanya mengingatkanku pada saat-saat hamil dulu. Saat mengikuti senam hamil di RS tempat aku melahirkan Amas dan Ade, kami selalu disuguh air kacang hijau plus roti tawar bikinan sendiri yang diiris tebal-tebal, kemudian diberi mentega dan meises. Hmmm… terlempar lagi ke masa lalu…
Selama aku di sana, antara jam 9.30 hingga sekitar pukul 12.00, rumah makan ini sepi pengunjung. Mungkin karena belum jam makan siang dan bukan hari libur. Tapi melihat satu etalase kosong, rasanya sedih banget… Mungkinkah rumah makan ini kalah bersaing dengan banyak rumah makan atau kafe lain yang bermunculan bagai jamur di musim hujan, dengan berbagai macam fasilitas yang memanjakan pengunjungnya?
Selama berada di sana beberapa kali aku lihat bis wisata melewati rumah makan itu. Beberapa kali pula tertangkap suara pemandu memberikan penjelasan, “Lihatlah di sebelah kanan, ini adalah rumah makan Sumber Hidangan yang legendaris. Rumah makan ini berdiri sejak tahun 1929.”
Aku berharap untuk seterusnya mereka akan terus mengatakan seperti itu, dan tidak menggantinya dengan, “Lihatlah di sebelah kanan, konon di tempat itu dulu berdiri rumah makan Sumber Hidangan yang legendaris itu.”
Ini parade fotonya:


*RM Sumber Hidangan dilihat dari pintu masuk saat baru buka.
* Kue-kue di etalase jadoel. Lihat timbangan kue raksasa di tengah ruangan!
.



Aku sebenarnya kangen banget sama anak ini… Ini teman berbuat iseng saat SMA. Bukan ngisengin teman, tapi iseng jalan-jalan keluar saat bosan di kelas. Pamitnya sama guru sih ke toilet. Tapi sebenernya banyak yang kami lakukan. Kadang jalan-jalan aja, kadang ke kantin, kadang kalau lagi pas bolong ke perpus. Jadi ke toiletnya cukup lama… Tapi terus terang aku lupa, siapa sebenernya yang punya ide begituan. Dia ngajakin aku, atau aku yang ngajakin dia? Atau gantian?
Aku nggak kasitau dia secara khusus kalau aku ke Bandung. Dilema. Dia pasti kangen sama aku juga kan… 😁 Dan pasti akan menawarkan diri untuk mengantar ke sana kemari. Iiih, GR banget ya… Padahal di sisi lain aku lagi pengen jadi backpacker sejati yang nggak manja. Seru gitu loh kalau punya cerita jalan jauh sambil nggeledeg ransel kemana-mana.
Yah… berhubung aku kelepasan bikin status nyari colokan nggak nemu-nemu, jadinya dia tau aku di Bandung. Kami pun bertemu di sini. Ngobrol lamaaa… Tapi rasanya masih kurang lama, meski sudah dilanjut jalan-jalan sampai museum Asia Afrika.
Banyak yang kami bicarakan. Kebetulan kami sama-sama punya anak yang berkebutuhan khusus. Gifted. Bedanya, anaknya giftednya harmoni, sementara anakku gifted disinkroni. Tapi ada banyaaaaak banget sifat mereka yang mirip. Dan bahwa kedua anak itu sama-sama punya adik yang sifatnya berkebalikan.
Jadi aku lega sekali. Eee… siapa tau nanti Amas akan seperti Bella juga. Bakal kuliah di Jepang. 😀 Aamiin…
#traveling_nina